Konsep dualisme cahaya yang diajarkan oleh Bapak Totok Lasiyanto dapat memang membantu memberikan penjelasan ilmiah untuk peristiwa Isra' Mi'raj, yang merupakan peristiwa penting dalam ajaran Islam.

Secara sederhana, dualisme cahaya merujuk pada ide bahwa cahaya dapat bersifat seperti partikel dan juga seperti gelombang, tergantung pada bagaimana kita mengamatinya. Ini adalah konsep yang mendasari fisika kuantum, dan bisa sangat rumit untuk dipahami sepenuhnya.

Namun, dalam konteks ini, bisa saja dianggap bahwa konsep ini membantu menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad SAW dapat melakukan perjalanan dari Mekah ke Yerusalem, dan kemudian naik ke langit (Isra' Mi'raj) dalam satu malam. Jika kita memandang Nabi Muhammad SAW sebagai partikel cahaya, maka dia bisa bergerak dengan kecepatan cahaya, yang memungkinkan perjalanan tersebut.

Hal ini tentu saja hanyalah sebuah analogi dan bukan penjelasan ilmiah sebenarnya tentang peristiwa Isra' Mi'raj. Tujuan utamanya adalah membantu siswa memahami dan merenungkan tentang peristiwa tersebut, dan dengan demikian memperdalam keimanan mereka. Saya harap penjelasan ini membantu!